3 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Saat Mendirikan Bisnis

mistake-bridge

Simak pengakuan dari para pebisnis mengenai kesalahan terbesar yang pernah mereka perbuat pada saat merintis bisnis mereka! Anda wajib mengetahuinya agar Anda tidak mengulangi kesalahan yang sama. Apa saja?

Pengalaman pahit bisa jadi adalah salah satu guru terbaik di dunia, tapi yang jelas hal tersebut bukanlah cara yang menyenangkan untuk belajar.

Kegagalan adalah bagian yang tak terelakkan dari perintisan bisnis, tapi bukan berarti Anda tidak bisa belajar dari kesalahan orang lain. Cukup Anda belajar dari kesalahan orang lain dan jangan sampai Anda menjadikannya pengalaman pribadi.

Hal tersebut mendorong serial entrepreneur David Hauser untuk mewawancarai sesama pebisnis dan menuliskan hasil wawancaranya tentang hal-hal yang menurut mereka kesalahan-kesalahan yang harus dihindari oleh siapapun yang ingin mendirikan bisnis,.

Hauser berhasil mewawancarai 25 pebisnis jempolan. Semuanya sangat layak disimak, dan berikut ini adalah sebagian kecil dari hasil wawancaranya mengenai kesalahan-kesalahan di masa-masa awal perintisan bisnis yang sebaiknya Anda hindari:

1. Mengira-ngira harga.
“Seandainya dulu saya tahu bagaimana caranya mengetes harga,” kata Neil Patel, pendiri start-up analisis web Crazy Egg. “Pertama kali kami merilis produk, yang kami lakukan adalah menentukan mekanisme penentuan harga kami berdasarkan pada hal-hal yang ingin kami kenakan biaya saja; bukannya mengoptimalkan harga untuk mendapatkan pemasukan dan keuntungan maksimum. Pelanggan utama kami menginginkan harga yang serendah-rendahnya, kami pun mengikuti kemauan mereka mengingat tingginya permintaan saat itu. Meskipun langkah tersebut menghasilkan lonjakan jumlah member baru, di sisi lain kami mengalami penurunan pemasukan. Seandainya saja saat itu kami tahu cara melakukan pengujian harga, kami tidak akan melakukan kesalahan sefatal itu.”

Mike Arsenault, salah satu pendiri Rejoiner, aplikasi retailer online setuju, “Jangan pernah mengir-ngira harga. Cara Anda menentukan harga produk akan berpengaruh pada begitu banyak hal yang menentukan keberlanjutan bisnis Anda, dan banyak pebisnis pemula yang gagal memahami hal-hal apa yang para konsumen mau membayarnya (termasuk saya sendiri). Dalam menentukan harga, pusatkan perhatian pada value yang Anda berikan pada pelanggan Anda, bukan pada biaya produksi atau biaya operasional Anda.”

2. Memforsir diri terlalu berlebihan.
“Saya dan rekan saya, Steve Bristol, benar-benar mencurahkan sebagian besar waktu kami selama tahun-tahun awal berdirinya bisnis kami. Kami bekerja lebih dari 80 jam dalam seminggu. Setelah mempekerjakan diri hingga pada batas kemampuan kami, kami menyadari bahwa meskipun kami mencurahkan 2 x 40 jam kami, namun perusahaan tidak bergerak maju 2x lebih cepat. Bahkan 40 jam ekstra tersebut lebih tidak produktif daripada 40 jam pertama. Kenyataannya adalah pekerjaan tidak pernah ada habisnya, Anda tidak akan pernah bisa menyelesaikan semua tugas-tugas Anda, membuat fitur-fitur dan desain yang sempurna tidak pernah ada ujungnya. Setelah kami menyadarinya, pada akhir jam kerja kami, sekitar jam 4 petang, kami menutup laptop kami dan pulang ke rumah. Jangan pernah lupa bahwa salah satu tujuan kita bekerja adalah untuk membuat hidup Anda berguna, “tulis Allan Branch, salah satu pendiri LessAccounting.

3. Tidak siap menderita.
Beberapa pebisnis besar sudah menegaskan bahwa mendirikan bisnis bukan melulu soal ide-ide brilian. Jason traff, pendiri Leaky, sebuah start-up layanan komparasi asuransi, mengatakan: “Seringkali film-film atau acara TV menggambarkan membangun bisnis tak ubahnya seperti sekelompok pemuda berusia 20-an bermain foosball sepanjang hari lalu berpesta pada pada malam harinya. Apa yang jarang mereka tunjukkan adalah bahwa selalu ada penderitaan dibalik kesuksesan. Seumur hidup saya, belum pernah saya ditolak sesering atau sekeras yang saya alami ketika membesarkan Leaky. Setelah semua penolakan, pertengkaran agar kami bisa membayar gaji karyawan, dan surat-surat pencekalan dari perusahaan-perusahaan asuransi yang tak terhitung jumlahnya; saya belajar bahwa diperlukan ketangguhan yang luar biasa untuk melalui pasang-surut yang sifatnya sementara tersebut dan untuk mengetahui bahwa tidak ada kemajuan atau kemunduran yang sifatnya permanen. ”

“Sangat penting bagi pendiri bisnis untuk mengetahui bahwa ketika memulai sebuah perusahaan, mereka sedang menaiki roller coaster yang sarat gejolak emosi. Mengelola emosi akan menjadi bagian yang sangat sulit namun juga sangat penting. Ketika Anda sedang berada di titik terendah, ingatkan diri Anda bahwa hal itu hanyalah sebuah riak kecil di tengah perjalanan, “kata Gautam Gupta, pendiri NatureBox, start-up healthy snack .

Disadur dari artikel Jessica Stillman, konttibutor majalah Inc., berjudul3 Mistakes You Need to Avoid When Starting Up.”
Sumber: Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s