9 Pengusaha Legendaris Yang Terlambat Memulai Bisnisnya

evening runTahukah Anda kesamaan antara Albert Einstein, Tim Page, dan Muhammad Yunus? Mereka meraih kesuksesannya di usia yang sudah tidak muda lagi. Terbukti, tidak ada kata terlambat untuk mendirikan bisnis.

Saat ini dunia sedang tercengang dengan kemampuan anak-anak muda berbisnis dan dampak yang dibawanya pada lingkungan. Namun bukan berarti terlambat kalau Anda sudah tidak muda lagi.

Berikut ini adalah sembilan founder legendaris yang “telat mekar”. Mereka meraih kesuksesannya di usia lebih dari 40 tahun. Kisah pencarian mereka pun beragam, ada yang seorang pemimpi, pemikir, dan ada yang memutuskan menjadi pebisnis karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan kantoran.

Reid Hoffman, pendiri LinkedIn
Setelah menyelesaikan kuliahnya di Stanford, Reid Hoffman butuh waktu 15 tahun untuk menemukan apa yang ingin ia lakukan.

Awalnya ia sempat merasa dirinya adalah orang bertipe akademisi, tapi ternyata takdir membawanya menjadi seorang entrepreneur.

Pada tahun 2002, di usianya yang ke-35, dengan uang dari penjualan Paypal di mana ia turut berperan membantu mendirikannya, ia menjadi co-founder LinkedIn, jejaring sosial yang sangat popular di kalangan professional. Dan saat ia berusia 43 tahun, LinkedIn go public.

Robert Noyce, Intel
Robert Noyce dulunya adalah seorang ilmuwan yang disegani, ia lulus Phi Beta Kappa dalam bidang matematika dan fisika dari Grinnell College. Ia bahkan menerima sebuah gelar doktoral di bidang fisika dari MIT.

Setelah menjalani karir sebagai seorang insinyur peneliti, ia menjadi co-founder Fairchild Semiconductor.

Di usianya yang ke-40 ia meraih kesuksesannya bersama Intel.

Dave Duffield, PeopleSoft
Keluarganya adalah pendiri Duffield Hall di Cornell University dan ia pun mempelajari teknik elektro di Cornell University. Ia sempat meraih gelar master di bidang administrasi bisnis.

Walaupun sempat mendirikan sejumlah perusahaan konsultan dan IT ternama setelah lulus kuliah, namun prestasinya yang paling menonjol adalah Peoplesoft, yang didirikannya saat berusia 46 tahun.

Dan pada tahun 2005, Duffield mendirikan Workday, sebuah perusahaan vendor manajemen SaaS.

Leo Goodwin, Geico
Putra dari seorang dokter ini memulai karirnya sebagai seorang akuntan di San Antonio Texas. Selama bekerja dengan para pembuat kebijakan, ia menyadari betapa sistem asuransi di masa itu sangat membutuhkan perbaikan. Ia berpikir kenapa para perusahaan asuransi tidak menjual jasanya kepada customernya secara langsung saja?

Setelah berjibaku dengan pekerjaan bergaji kecil dalam waktu yang lama, pada tahun 1936 akhirnya ia mendirikan GEICO, periode kejayaannya dimulai tepat pada saat masa mudanya sudah lewat.

Ray Kroc, McDonald’s
Raymond sempat menjalani karir menjual mesin milkshake dengan berkendara mengelilingi negara bagiannya,

Di usianya yang ke-52 ia bertemu Maurice dan Richard McDonald bersaudara yang mengelola bisnis restoran drive-in di San Bernardino, California. Ia tertarik dengan bisnis mereka. Di saat perusahaan lain membeli satu mesin darinya, keluarga McDonald membeli delapan.

Kroc pun membujuk McDonald bersaudara agar mendapatkan kemitraan franchise. Ia ingin membangun sebuah brand, karena ia menyadari pentingnya reputasi bagi pertumbuhan sebuah bisnis.

Bisnis franchise tersebut sempat terwujud walaupun pada akhirnya bisnis ini berujung pada kebangkrutan. Kroc pun membeli perusahaan tesebut dari McDonald bersaudara senilai US$ 2,7 juta.

John Pemberton, Coca-Cola
Selama Perang Saudara Amerika, para tentara yang terluka seringkali diberikan perawatan dengan menggunakan morfin, yang mana menimbulkan kecanduan bagi si pengguna. Hal tersebut juga dialami John Smith Pemberton, seorang apoteker asal Georgia yang juga terluka akibat perang tersebut. Namun Pemberton tidak tinggal diam, ia berusaha menemukan cara untuk mengatasi ketergantungannya pada morfin. Didukung oleh latar belakang keilmuannya, ia pun berhasil menemukannya: Pemberton’s French Wine Coca.

Saat negara bagian Atlanta mengeluarkan undang-undang minuman keras yang baru, Pemberton yang saat itu berusia 55 tahun terpaksa merombak komposisi minumannya agar tidak mengandung alcohol lagi. Dengan bantuan dari anaknya, ia mengganti bahan dari anggur dengan gula, dan membentuk sebuah perusahaan untuk memproduksi CocaCola.

Tahun 1988, Pemberton menjual sebagian kepemilikan atas formulanya, yang dengan sigapnya direspon oleh salah satu karyawannya yang bernama Asa Candler. Peda tahun yang sama Pemberton meninggal. Pada tahun 1891, Candler menguasai kepemilikan seluruh perusahaan.

Henry Kaiser, Kaiser Permanente
Bapak perkapalan amerika dan pendiri Kaiser Permanent ini mengawali perjalanan bisnisnya sebagai seorang fotografer, bukan industrialis.

Pada usia 32 tahun, Henry J. Kaiser mendirikan perusahaan paving yang kemudian dipercaya membangun jalan di Kuba dan terlibat dalam pembuatan bendungan Hoover.

Namun seiring dengan semakin terlibatnya Amerika dalam Perang Dunia II, galangan kapal Kaiser di California membuat kapal kargo dalam waktu yang sangat singkat, antara empat hingga 45 hari.

Di usia 63, Kaiser dan seorang dokter bernama Sidney Garfield mendirikan Kaiser Permenente untuk melindungi kesehatan para pekerjanya.

Colonel Harland David Sanders, KFC
Di sebagian besar masa hidupnya, Harland Sanders David menjadi seorang kutu loncat pekerjaan. Ia pernah menjadi seorang petani, seorang pilot kapal uap, agen asuransi, dan bahkan pemadam kebakaran kereta api.

Dan masalahnya selalu sama: Ia selalu dipecat.

Suatu hari, Sanders membuka bengkel kecil yang kinerjanya cukup menggembirakan. Namun takdir tidak selalu sesuai harapan, ketika sebuah jalan raya raya baru (Interstate 75) dibuka, arus keramaian berubah dan berakibat pada penurunan pemasukan bengkel Sanders.

Namun Sanders tidak terpengaruh, Sanders yang saat itu berusia 65 tahun menguangkan cek jaminan sosialnya dan memperoleh $ 105. Berbekal uang itu ia menemui orang-orang yang ingin ia ajak kerjasama waralaba dengannya.

Pada tahun 1964, Sanders menjual perusahaannya, yang saat itu telah memiliki lebih dari 600 outlet dengan nilai sekitar US$ 2 juta (atau setara dengan $ 15 juta saat ini).

Thomas Siebel, Siebel
One of seven children, Thomas Siebel has earned degrees in history, computer science, and business. Though he had some success during stints at the Oracle Corporation and Gain Technology, it wasn’t until he turned 41 that he found success with Siebel Systems. Today, the company is the dominant Customer Relationship Management vendor, with a 45 percent share of the market.
Dilahirkan di tengah tujuh bersaudara, Thomas Siebel berhasil meraih gelar dalam bidang sejarah, ilmu komputer, dan bisnis. Walaupun memiliki karir cemerlang di Oracle Corporation dan Gain Technology, hal tersebut tak menghalanginya untuk mendirikan Siebel Systems di usianya yang ke-41 . Saat ini perusahaan adalah salah satu vendor Customer Relationship Management yang dominan, mereka menguasai 45 persen dari seluruh pangsa pasar.
Sumber: Inc.

2 thoughts on “9 Pengusaha Legendaris Yang Terlambat Memulai Bisnisnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s