Inovasi Produk Bukan Segalanya! Ini Buktinya…

melawan arusDi dunia bisnis akhir-akhir ini, inovasi telah menjadi sebuah kata yang terlalu sering orang gembar-gemborkan tanpa memahami lebih dulu inovasi seperti apa yang sanggup meroketkan daya jual sebuah produk.

Agar Anda memahami faktor apa yang menentukan kekuatan suatu inovasi dalam menjual produk, Anda wajib membaca artikel Neal Cabage, seorang technopreneur yang disegani di Amerika sekaligus kontributor majalah Inc., berikut ini:

Starbuck dan Amazon telah membuktikan bahwa fokus pada nilai yang “membungkus” sebuah produk terkadang memberikan hasil yang lebih cemerlang dibanding fokus pada produk itu sendiri.

Apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh Starbuck sampai mereka mampu membangun sebuah kekaisaran bisnis hanya dalam waktu 35 tahun padahal mereka mengenakan harga yang sangat mahal untuk sesuatu yang pada dasarnya hanyalah sebuah komoditas? Para pelangganya seakan-akan menemukan “sesuatu” yang sangat bernilai dari produk mereka, sampai-sampai mereka rela mengantri panjang plus mengeluarkan $4 (ini bukan harga yang murah bung!) hanya untuk secangkir kopi yang bisa mereka buat sendiri di rumah dengan harga yang lebih murah.

Masih belum habis kebingungan yang dialami oleh brand-brand lainnya, Starbuck telah melangkah semakin jauh dengan dinobatkan sebagai salah satu brand paling dicintai di Amerika. Jangankan brand lain, Howard Schultz, sang pendiri Starbuck sendiri pun pernah merasa gamang, “Bila saya harus menjual kopi dengan harga $4 setiap cangkirnya, apa kata konsumen nanti?”

Memberikan Lebih Dari Sekedar Komoditas

Cara Starbuck melakukannya? Yaitu dengan menyajikan lebih dari sekedar kopi. Mereka menyajikan minuman kelas premium yang dibuat sepersis mungkin dengan pesanan Anda, pelayanan yang mengagumkan, dan outlet yang menarik dengan kursi-kursinya yang nyaman serta WiFi gratis.

Bagi sebagian pelanggan, mereka ke Starbuck untuk mencari kafein. Sementara bagi sebagian lainnya, mereka ke Starbuck untuk mencari kenyamanan yang akan selalu mereka dapatkan kapanpun mereka membutuhkan koneksi internet. Semua hal ini bergabung menjadi satu menciptakan nilai tambah yang sejatinya bukan terletak pada kopi itu sendiri, sehingga memuluskan jalan Starbuck untuk menjual salah satu komoditas paling umum di dunia dengan harga premium. Di mata orang yang menghargainya, Starbuck berhasil memberikan nilai yang signifikan sehingga layak untuk dihargai $4 per cangkirnya.

Amazon.com adalah sebuah contoh nyata dari sebuah keberhasilan untuk melampaui komoditas yang sering orang tak menyadarinya. Mereka tidak menjual versi premium dari sebuah komoditas seperti yang dilakukan Starbuck, mereka juga tidak memiliki wujud fisik (outlet) yang bisa Anda temukan di setiap sudut jalan, namun mereka berhasil menciptakan nilai yang signifikan melampaui kompetitornya.

Sebagian besar dari kita berbelanja di Amazon.com karena mereka memiliki inventori terbesar, pengiriman tercepat, dan salah satu kebijakan pengembalian barang yang paling memuaskan di dunia. Dan karena saat ini mereka adalah peritel terbesar di dunia, mereka punya kekuatan pricing yang signifikan untuk memberikan harga yang paling kompetitif di mata customer.

Jika semua benefit tersebut masih terdengar sepele bagi Anda, coba tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda berani membeli dari sebuah toko online kecil yang Anda tidak tahu banyak tentang mereka meskipun produk yang Anda cari dibanderol harga yang sama dengan Amazon.com. Sekalipun Anda adalah orang yang sangat militan dalam mendukung usaha kecil, apakah Anda rela membeli dengan harga yang sama dari toko yang pengirimannya lebih lambat dan tidak menjelaskan seperti apa kebijakan pengembalian barangnya?

Rantai Nilai

Pada tahun 1979 seorang Profesor Harvard, Michael Porter, memperkenalkan konsep rantai nilai (value chain), yang menyatakan bahwa ada beberapa lapisan di dalam bisnis Anda, yang masing-masing dari lapisan tersebut punya kontribusi terhadap total nilai yang dirasakan oleh pelanggan Anda. Aktivitas yang bersifat langsung (direct), termasuk penjualan, jelas berkontribusi terhadap pemasukan; sementara kegiatan seperti IT dan customer service menghasilkan value jangka panjang yang sifatnya tidak langsung (indirect). Semua layanan ini melebur hingga membentuk satu rantai nilai yang terintegrasi yang membuat beberapa brand (yang mampu mengelolanya dengan baik) jadi terlihat lebih profesional dan lebih bernilai dibanding brand lainnya.

Investasi yang mereka lakukan pada infrastruktur mereka tidak hanya berakibat pada penurunan biaya operasional dan membuat mereka jadi lebih efisien saja, namun juga meningkatkan kemampuan mereka untuk memberikan lebih banyak nilai bagi pelanggan mereka dengan meningkatkan kualitas customer experience, mengurangi risiko, dan menangani kebutuhan lainnya yang dimiliki pelanggan namun belum direspon oleh pasar.

Inovasi Pada Indirect Benefit

Starbucks dan Amazon.com membangun sebuah kekaisaran dalam bidang penjualan komoditas dengan berinvestasi besar pada benefit tidak langsung yang “membungkus” produk mereka, memberikan lebih banyak nilai untuk pelanggan dibanding kompetitor mereka. Dengan kata lain, inovasi mereka ada pada rantai nilai yang mereka sematkan pada komoditas yang mereka jual, bukan pada produk itu sendiri. Pada akhirnya, inovasi tidak selalu berwujud keajaiban teknologi atau keterampilan yang superior, menciptakan sebuah metode pengiriman atau metode pembelian yang lebih baik pun bisa menjadi lahan subur untuk inovasi juga.

Pelajaran apa yang bisa Anda dapatkan dari Starbucks atau Amazon? Bila Anda menjual sebuah komoditas namun menyuguhkan diferensiasi yang kuat pada prosesnya, maka akan lebih mudah bagi Anda untuk melewati jebakan komoditas yang telah membelit begitu banyak bisnis. Di sinilah terdapat  satu perbedaan yang nyaris tak terlihat namun tidak boleh diabaikan. Semua orang di Silicon Valley terlihat begitu ingin menghadirkan inovasi pada produk mereka, namun hanya sedikit yang mampu menciptakan nilai pembeda yang cukup berarti yang mampu membawa mereka meninggalkan competitor mereka. Hal ini sangat disayangkan karena pada akhirnya banyak produk canggih yang berakhir menjadi sekedar komoditas belaka.

Intinya? Jika Anda memfokuskan semua energi Anda untuk menginovasi sebuah produk yang terlahir sebagai komoditas, Anda tidak akan pernah memiliki posisi pasar yang kuat, semua energi Anda akan habis hanya untuk peperangan yang tidak mungkin Anda menangkan. Anda tidak akan meraih keuntungan kecuali Anda berhasil menjual bisnis Anda pada saat konsolidasi pasar, namun hal tersebut kecil kemungkinannya untuk terjadi.

Itulah sebabnya terkadang lebih baik menginovasi rantai nilai yang ada di sekitar komoditas daripada menginovasi produk itu sendiri. Apalagi bila Anda memasuki pasar yang penuh sesak sementara tidak punya cukup waktu dan sumber daya untuk menjadi pemimpin sebelum pasar tersebut jenuh.

Sumber: Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s