Begini Cara McDonald’s, Starbucks, Dan Amazon Menemukan Lahan Bisnis Baru

IcebergMcDonald’s, Starbucks, dan Amazon (dan Apple) diam-diam sedang mendulang emas dari lahan bisnis baru yang sangat menjanjikan tanpa orang-orang menyadarinya. Bagaimana cara mereka mendapatkan ide-ide bisnis yang brilian? Yang mereka lakukan sebenarnya sederhana saja, yakni memanfaatkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam roda bisnis mereka.

Caranya adalah: meredefinisi bisnis mereka.

Tanyakan pada diri Anda: Bisnis apa sebenarnya yang sedang saya jalankan ini? Dengan cara ini lah perusahaan-perusahaan kelas dunia menemukan cara-cara unik untuk meperbesar bisnis mereka.

Pertanyaan ini bukan mengenai produk apa yang dijual oleh bisnis Anda, namun mengenai bagaimana sebenarnya cara bisnis Anda bekerja? Bila Anda mampu menjawabnya dengan benar, petualangan baru menuju pulau harta karun lainnya telah menanti.

Seperti apa prosesnya dan mengapa Anda perlu melakukannya? Temukan jawabannya dalam artikel Ilan Mochari, Senior Writer majalah Inc., berikut ini (dikutip dari Inc.):

Menurut laporan The Bookseller dan The Wire, McDonald’s telah menjadi distributor buku anak-anak terbesar di Inggris

Mengapa bisa begitu? Karena: McDonald’s sukses dengan program promosinya berupa pemberian e-book serial misteri anak-anak gratis di setiap paket Happy Meal tahun 2014 yang lalu. Mereka menggandeng Kobo, sebuah perusahaan penerbit dan pemasar e-book dari Kanada, sebagai penyedia e-book mereka. Dengan proyeksi penjualan 15 juta Happy Meals selama promosinya berlangsung, McDonald’s tercatat sebagai salah satu distributor buku terbesar di Inggris.

Sekarang, coba Anda perhatikan distribusi e-book yang sudah berjalan selama ini, lalu pikirkan: Di era kepunahan toko buku (dan juga toko kaset) konvensional ini, kekuatan apa yang dimiliki oleh para peritel, namun belum mereka gunakan potensinya untuk mengeruk uang?

Kekuatan Distribusi Peritel

Coba perhatikan Starbuck. Lebih dari 30 tahun setelah ia didirikan, tepatnya pada tahun 2014, mereka mulai berbisnis musik. Hari ini, pemutaran lagu dan pemasangan display di outlet telah menjadi bagian dari DNA perusahaan. Dan seringkali, Starbuck menjadi peritel eksklusif untuk album (CD) baru musisi-musisi kelas atas.

Sekarang coba perhatikan Sears. Cara apa lagi yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan 2.400 outlet mereka (1.300 Sears ditambah 1.100 Kmarts) di Amerika?

Dalam artikelnya di Forbes, Robin Lewis mengatakan, akan sangat ideal bila jaringan pertokoan lokal tersebut diakuisisi oleh Amazon dan digunakan sebagai kantong-kantong distribusi mereka.

Bagi pihak Amazon, langkah akuisisi akan menjadi jawaban yang tepat untuk menjawab tantangan untuk merangsek ke sektor omnichannel. 2.400 outlet adalah media yang sangat luar biasa untuk menciptakan 3 kekuatan penting: memberikan kemudahan bagi customer untuk melakukan pembelian baik secara online maupun offline, memberikan kenyamanan dari segi jarak untuk melakukan pengambilan dan pengembalian barang, dan memberikan kecepatan pengiriman yang lebih baik lagi.

Maka bisa dikatakan, para peritel besar dari berbagai sektor tengah mendefinisi ulang model bisnis mereka sebagai multi-purpose distributor. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari sini?

Ini adalah peringatan bagi Anda untuk mulai berpikir: Bisnis apa sebenarnya yang sedang saya geluti ini? Sebuah ertanyaan yang sangat provokatif dan mengusik ketenangan pikiran.

Definisikan Bisnis Anda Dari Kemampuannya, Bukan Produknya

Kalau saja Starbucks secara kaku membatasi bisnis mereka hanya kopi saja, mereka takkan pernah mendulang keuntungan dari dunia musik. Begitu juga Apple, seandainya mereka kaku dengan hanya menggarap pasar komputer saha, mereka takkan pernah menikmati keuntungan dari dunia musik. Dan Amazon, seperti yang kita tahu, telah bertransformasi menjadi sosok baru yang bukan sekedar peritel buku lagi. Bahkan, Wall Street Journal melaporkan bahwa Amazon sedang melakukan pilot project untuk melakukan pengiriman yang mereka operasikan sendiri dari pusat distribusi ke alamat konsumen yang mereka namai “last mile”.

Dengan kata lain, Amazon tak lama lagi akan mengusik ketenangan UPS dan FedEx dalam bisnis pengiriman.

Dari gambaran di atas, bisa disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sedang memperlebar definisi bisnis mereka dengan memanfaatkan kemampuan mereka. Mereka tidak membatasi diri secara kaku untuk selalu mematuhi model bisnis mereka yang lama. Mereka tidak sampai terjerumus dalam kesalahan yang telah dilakukan oleh industri kereta api Amerika, seperti yang dikatakan oleh Theodore Levitt dalam artikel Harvard Business Review 1960-nya yang terkenal:

Perusahaan kereta api saat ini sedang berada dalam kesulitan bukan karena kebutuhan akan transportasi penumpang dan barang yang menurun, justru pasarnya tumbuh. Juga bukan karena kebutuhan tersebut telah dipenuhi oleh mesin lain (mobil, truk, pesawat terbang, dan bahkan telepon). Mereka dalam kesulitan karena mereka sendiri yang tidak berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan mereka. Mereka membiarkan orang lain merebut pelanggan mereka karena mereka merasa sedang hidup di dalam bisnis perkeretaapian, bukannya bisnis transportasi.

Faktor yang menyebabkan mereka salah dalam mendefinisikan bisnis mereka adalah mereka berorientasi pada kereta api, bukannya berorientasi pada transportasi; mereka berorientasi pada produk, bukannya berorientasi pada pelanggan.

Dan bila Anda berpikir bahwa evolusi model bisnis seperti ini adalah masalah bagi perusahaan-perusahaan besar, tampaknya Anda salah. Big Ass Fans, perusahaan yang pernah masuk dalam Inc 5000 tahun 2013, baru-baru ini mengubah namanya menjad Big Ass Solution untuk mendefinisikan model bisnis baru mereka yang melibatkan penambahan kemampuan engineering mereka. “Membuat kipas angin bukanlah sebuah visi,” kata sang pendiri sekaligus CEO, Carey Smith. “Saya tidak mengatakan bahwa kipas angin tidak akan menjadi bagian dari apa yang akan kami lakukan. Tapi 50 tahun dari sekarang, kami bukan lagi sekedar perusahaan kipas angin.”

“Anda tidak boleh menutup mata pada hal-hal seperti itu.”

Sumber: Inc.

2 thoughts on “Begini Cara McDonald’s, Starbucks, Dan Amazon Menemukan Lahan Bisnis Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s