Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Melempar Handuk?

throwing in the towel - dailymail(dot)co(dot)uk

Entrepreneur adalah golongan orang-orang yang keras kepala dan luar biasa optimis. Menyerah bukanlah sesuatu yang mudah bagi mereka. Namun terkadang menyerah mungkin adalah langkah terbaik. Yang penting adalah tahu kapan waktunya untuk mundur dan tahu apakah keputusan tersebut benar atau tidak.

Bila Anda benar-benar ingin mengetahuinya, ada baiknya Anda mempelajari pengalaman Norm Brodsky, entrepreneur veteran Amerika yang menjadi contributor kolom Street Smart di majalah Inc., berikut ini:

Baru – baru ini saya bercengkerama cukup lama dengan teman saya Tom, yang tengah berjibaku dengan bisnisnya selama beberapa tahun terakhir. Hal positif yang dimilikinya adalah, produknya disukai pelanggan, dan perusahaannya memberikan dampak yang besar pada masyarakat. Namun sayangnya, yang ia jalankan bukan lembaga amal, melainkan organisasi bisnis yang bertujuan mencari profit. Tiga tahun yang lalu, ia menargetkan perusahaannya untuk mencapai titik impas. Namun yang terjadi sebaliknya, ia malah kehilangan $ 250.000. Tahun berikutnya, ia masih mematok target yang sama dan hasilnya pun juga masih sama. Tahun lalu, ia memproyeksikan kerugian $ 70.000, tapi yang terjadi justru lebih parah, ia kehilangan lebih dari $ 200.000.

Tahun ini, sekali lagi, ia memproyeksikan titik impas. Saya tentu saja berharap yang terbaik baginya, namun saya tidak bisa menahan diri untuk menanyakan kepadanya apakah ia harus meneruskan bisnisnya bila hal seperti ini terus terjadi. Saya menghadapi dilema yang sama ketika perusahaan messenger saya, Perfect Courier, menuju kebangkrutan pada tahun 1988. Beberapa orang yang ahli, termasuk pengacara dan akuntan saya, bilang saya harus pergi, dengan alasan bahwa sangat tidak mungkin saya bisa keluar dari jurang kebangkrutan. Respon saya adalah: “Tantangan yang sangat menarik!”

Lalu selama tiga tahun berikutnya, semua yang saya lakukan hanyalah untuk bertahan agar tidak benar-benar bangkrut. Sungguh sebuah penyiksaan. Bisakah Anda bayangkan bagaimana rasanya setiap hari harus dating ke meeting di mana orang-orangnya berteriak-teriak dan mengancam Anda? Namun, seberapapun menyakitkannya, pengalaman itu mengajarkan saya tentang bisnis lebih banyak dari apa pun yang pernah saya alami. Pelajaran yang saya dapatkan (fokus pada keuntungan, bukan penjualan; serahkan pengeolaan perusahaan pada para manajer; jangan tergesa-gesa mengambil keputusan; dan sebagainya) amat sangat besar. Seiring dengan keberhasilan Perfect Courier bangkit dari kebangkrutan pada tahun 1991, saya sudah meluncurkan bisnis saya berikutnya, CitiStorage. Tanpa pelajaran dari Perfect Courier sebelumnya, semua itu tidak akan terjadi.

Apakah keputusan untuk mempertahankan Perfect Courier tetap hidup sebanding dengan harganya? Saya tidak yakin, sebagaimana juga Tom tidak bisa memastikannya.

Bukan hal yang mudah untuk menyerah ketika ikatan emosional dengan bisnis Anda sudah sedemikian kuatnya, seperti saya dengan Perfect Courier dan Tom dengan perusahaannya. Pada akhirnya, yang perlu Anda lakukan hanyalah mencari jawaban dan nasihat terbaik yang bisa Anda dapatkan, lalu gunakan judgement Anda. Setiap orang akan mempunyai kesimpulan yang berbeda.

Bagaimana dengan Anda, bagaimana perasaan tentang menyerah? Pernahkah Anda menyerah dalam berbisnis? Dan apakah itu keputusan yang tepat? Apakah Anda menyesal? Berikan komentar Anda.

Sumber: Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s