Anda Tidak Butuh Master Plan Untuk Mendirikan Bisnis! Ini Sebabnya…

compass

Perencanaan yang statis hanya akan menghasilkan stagnasi bagi bisnis Anda. Lalu apa sebenarnya yang terbaik yang bisa Anda lakukan agar bisnis Anda senantiasa tumbuh dan berkembang?

Judul artikel ini memang provokatif dan terdengar ber,tentangan dengan keyakinan Anda selama ini, namun memang itulah sesungguhnya yang dikatakan oleh Aaron Skonnard, seorang co-founder dan CEO Pluralsight (sebuah perusahaan penyedia pelatihan IT online terkemuka di dunia) sekaligus kontributor majalah Inc. ini.

Master plan, bila terlalu didewakan, hanya akan membutakan kita dari realitas pasar, dari peluang bisnis yang ada tepat di belakang punggung kita; dan yang lebih buruk lagi adalah membutakan kita dari kemampuan kita yang sebenarnya.

Aaron Skonnard punya alasan mengapa ia berkata seperti itu, dan Anda juga tidak harus mempercayai kata-katanya. Tapi setidaknya ia punya solusi untuk menumbuhkan bisnis tanpa master plan, berikut ini penuturan lengkap darinya:

Di kalangan entrepreneur, ada satu peraturan tidak tertulis yang menyatakan bahwa sebelum mendirikan bisnis Anda harus punya “master plan”-nya dulu. Ada semacam jaminan bila mereka memiliki business plan yang mampu menggambarkan setiap detail dari visi mereka, maka mereka .akan segera meraih kesuksesan dan mendapatkan kejelasan arah perusahaannya  Tak terhitung jumlahnya entrepreneur yang mengamininya.

Bahkan sampai ada perusahaan / konsultan yang membantu pembuatan master plan berani memberikan garansi profitabilitas dan kinerja yang mentereng bagi perusahaan yang punya perencanaan yang canggih. “Menjalankan bisnis yang sehat tak pernah semudah ini!” tulis konsultan tersebut di halaman websitenya.

Walaupun banyak orang mencoba meyakinkan saya tentang pentingnya memiliki master plan , saya malah berpikir lebih baik tidak memilikinya. Aturan-aturan kaku di dalamnya hanya akan menjadi hambatan bagi pembelajaran dan inovasi bagi manusia maupun perusahaannya. Karena seringkali ide-ide di dalam master plan merupakan ramalan yang seolah terisolasi dari realitas pasar. Bahkan seringkali master plan dibuat sebelum produk atau perusahaannya ada. Dengan demikian, terdapat spekulasi sebelum dilakukan eksekusi terhadapnya

Pendekatan yang lebih cerdas dalam memaksimalkan potensi bisnis Anda adalah dengan menjaga bisnis Anda tetap efisien namun fleksibel, menyediakan lingkungan yang mendukung evaluasi dan pembelajaran tanpa henti, pembaruan dan perbaikan terus-menerus, menekan pemborosan dan memaksimalkan nilai bagi pelanggan.

Fleksibilitas (alih-alih kesetiaan pada rencana yang statis), adalah hal yang paling dibutuhkan sebuah bisnis untuk bisa mengubah arah fokusnya dengan cepat dan mulus guna memenangi permintaan pasar yang sangat dinamis.

Anda tidak butuh master plan bila bisnis Anda ramping, gesit, dan siap melakukan hal-hal besar. Untuk itu Anda perlu menerapkan 3 langkah ini:

1. Bangun budaya Lean.
Bagaimana cara Anda mendirikan perusahaan dapat menentukan tipe organisasi bisnis Anda. Jauh lebih menentukan dibanding menyusun “master plan” yang akan segera kehilangan relevansinya ketika perusahaan Anda tumbuh dan berkembang ke arah yang tak terduga.

Ketika kami mendirikan Pluralsight pada tahun 2004, masing-masing dari empat founder kami menanamkan US$ 5.000 sebagai modal, uang US$ 20.000 inilah yang kami gunakan untuk membangun perusahaan kami. Kami tidak pernah meminjam modal atau menerima investasi dari siapapun selama hampir satu dekade.

Pendekatan Lean yang kami gunakan saat mendirikan startup tidak hanya memaksa kami untuk menggunakan sumber daya kami dengan sangat efisien, namun juga menjadi api yang selalu mematangkan ide, strategi, dan produk kami. Tekanan finansial pernah memaksa kami melepaskan apa yang telah kami miliki, namun dibalik itu, kejadian tersebut sebenarnya membantu kami dalam menjaga fokus kami pada hal-hal yang terpenting. Bila kami tetap kukuh berpegang pada rencana yang telah kami tetapkan sebelumnya, kami mungkin akan tergoda untuk bergerak lebih cepat dari aliran pemasukan dijamin, dan tak lama kemudian kami akan kehilangan arah.

Bila Anda ingin menciptakan perusahaan yang ramping sejak awal, kuncinya adalah Anda harus memperlakukan pemasukan dan laba seperti raja, mengutamakan mereka di atas “goals” yang telah Anda tuliskan dalam sebuah perencaan yang tidak relevan dengan realita keuangan perusahaan Anda.

Ketika pemasukan dan profitabilitas meningkat, maka itu berarti lampu hijau bagi peluang baru, karyawan baru, produk baru, dan peningkatan pengambilan risiko. Setelah Anda memiliki produk yang kinerjanya bagus di pasar dan Anda telah membuktikan bahwa pemasukan Anda bisa meningkat, barulah Anda boleh meniginjak gas penuh untuk mengakselerasi pertumbuhan.

2. Mulailah dengan hal yang paling Anda kuasai.
Pendekatan Lean dapat diperluas implementasinya dari area keuangan sampai ke filosofi. Karena inti dari pendekatan Lean adalah menghilangkan pemborosan di semua area, yang berarti memulai dari hal kecil dan menggunakan sumber daya secara efisien.

Master plan menuntut kita untuk mengeksplorasi setiap celah dan peluang yang bisa kita kejar, sementara pendekatan Lean mendorong kita untuk memaksimalkan keahlian utama kita dan menciptakan inovasi darinya.

Diversifikasi bisnis, di satu sisi memang bisa membantu Anda meningkatkan jangkauan dan potensi pemasukan, dengan catatan bila dilakukan di waktu yang tepat. Bila Anda melakukannya terlalu dini, dia bisa menghancurkan perusahaan Anda dengan setumpuk inefisiensi yang ditimbulkannya.

Perusahaan kami sejak awal berfokus pada pelatihan in-class karena kami memahami ceruk pasar ini luar-dalam, dan kami memiliki percaya diri dengan kemampuan kami. Pada tiga tahun pertama:

  • Kami menahan hasrat kami untuk berekspansi di luar area yang kami kuasai sembari membangun pondasi keuangan yang kokoh yang memungkinkan kami untuk mengambil lebih banyak risiko
  • Kami membangun hubungan yang baik, membangun suatu jaringan pengajar (yang kelak akan menjadi penyedia konten bagi kami), dan membangun pemahaman yang mendalam mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan kami.
  • Kami tidak merekrut orang terlalu dini, dan kami bersedia memainkan lebih dari satu peran untuk menyelesaikan pekerjaan kami, sampai kami benar-benar memerlukan penambahan staf. Periode 2004-2010, kami beroperasi hanya dengan menggunakan bantuan kontraktor tanpa memiliki seorang pun karyawan fulltime. Semua founder menyingsingkan lengan baju mereka dan membangun website perusahaan, menyusun sendiri program-program kursus untuk pemula, dan merancang model bisnis perusahaan secara keseluruhan. Hasilnya, periode 2010-2013, Pluralsight tumbuh hingga mampu merekrut sekitar 20 karyawan fulltime – dan pada tahun lalu, perusahaan tumbuh hingga mampu merekrut lebih dari 200 karyawan fulltime, didukung oleh pesatnya peningkatan pemasukan dan margin yang kuat.

Dengan kata lain, dengan mendirikan bisnis dari hal yang paling kami kuasai, maka kami menemukan arah yang paling tepat dalam mengembangkan bisnis kami, kami menemukan jalur yang bebas dari tekanan untuk berekspansi ke area lain di atas uang milik VC di bawah jam yang terus berdetik.

Kami juga menemukan bahwa, alih-alih mendewakan master plan, jauh lebih efektif mengembangkan produk dan basis pelanggan mengikuti kurva perusahaan Anda agar Anda terhindar dari tekanan keuangan ekstrinsik yang bisa memblokir ide-ide segar dan inovasi. Dengan model bisnis ini, investasi kami di beberapa tahun pertama Pluralsight berdiri menciptakan lingkungan yang sempurna untuk melakukan pivot yang radikal pada bisnis kami, misalnya perubahan model bisnis kami dari yang awalnya berupa training in-class menjadi model pelatihan online.

3. Jadilah pembelajar tercepat.
Satu-satunya keunggulan kompetitif jangka panjang yang bisa Anda andalkan adalah kemampuan untuk belajar lebih cepat dari orang lain; disertai dengan pemanfaatan sumber daya yang efisien. Inilah jantung dari konsep Lean. Anda harus mempelajari apa yang diinginkan pelanggan Anda secepat yang Anda bisa, lalu tingkatkan pemahaman Anda dan sempurnakan “aliran” nilai bagi pelanggan secara terus menerus.

Pada tiga tahun pertama berdirinya Pluralsight kami kebanjiran permintaan pelatihan inclass, lalu kami gunakan pemasukan dari pelatihan tersebut untuk mengembangkan model bisnis online kami. Lalu dari waktu ke waktu, bisnis kami beralih sepenuhnya menjadi model online.

Hingga ada akhirnya kami tahu bahwa dengan model berbasis pada subscription (iuran), pelanggan menentukan pilihan dengan dompet mereka. Jika ada nilai yang konsisten mereka dapatkan, mereka akan tetap membayar; namun jika tidak ada nilai bagi mereka, mereka akan berhenti membayar. Maka kami harus membuat sesuatu dengan cepat, mengulang sesuatu dengan cepat pula, dan pada akhirnya kami mempelajari sesuatu dengan cepat. Lalu kami menghabiskan tujuh tahun berikutnya untuk mengembangkan produk pelatihan online kami dan menjadi pembelajar tercepat dalam bisnis ini.

Kami melakukannya tidak dengan mengikuti master plan, namun dengan mengikuti prinsip-prinsip Start-up Lean, yang dikemukakan oleh Steve Blank dalam Harvard Business Review sebagai mengutamakan “eksperimen di atas perencanaan yang rumit, feedback pelanggan di atas intuisi, dan desain iteratif di atas pengembangan ‘big design up front’ tradisional.” Kami memulainya hanya dengan produk dengan kelayakan minimum (minimum viable product / MVP) dan mengirimkannya dengan segera. Dari situ, dengan prinsip untuk senantiasa mendengarkan pelanggan kami dan belajar dari feedback yang mereka sampaikan kepada kami, kami menciptakan lingkaran feedback buat-evaluasi-pelajari (build-measure-learn) dalam bisnis kami. Kami menjadi semakin ahli dalam menggulirkan roda perbaikan terus-menerus untuk membangun perpustakaan pelatihan kreatif dan teknologi online terbesar di planet ini.

Sumber: Inc.

2 thoughts on “Anda Tidak Butuh Master Plan Untuk Mendirikan Bisnis! Ini Sebabnya…

  1. Memang ada beberapa mazhab soal menyoal rencana bisnis ini. Ada yang pro dan kontra itu wajar. Rencana Bisnis adalah sebuah guideline, itu prinsip dasar yang tak bisa ditawar-tawar. Pun banyak perusahaan startup yang gagal padahal punya rencana bisnis yang matang. Ada juga perusahaan yang mapan juga tidak berhasil mengeksekusi rencana bisnis yang sudah dibuat oleh konsultan perencanaan yang strategis.

    Ada banyak hal yang menyebabkan kenapa antara realitas dan rencana bisnis tidak sinkron.
    Pertama, adalah bahwa rencana bisnis itu tidak dibuat secara realistis dengan memetakan permasalahan yang ada dan kondisi real perusahaan. Target yang terlalu optimis, tanpa menyadari kekurangan diri adalah resep awal dari kegagalan rencana bisnis.

    Kedua, jika anda menggunakan konsultan, bisa jadi konsultan tersebut yang salah dalam menganalisa data-data yang ada di dalam perusahaan atau bisa jadi perusahaanlah yang salah dalam memberikan data. Salah disini bisa disengaja (tidak jujur) bisa tidak disengaja.

    Pada intinya, rencana bisnis atau masterplan sekalipun adalah sebuah guideline, yang membuat kita jelas mau melakukan apa, mau menuju kemana, dan apa yang mau dicapai untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Tapi pada akhirnya improvisasi dan fleksibilitas bisa saja terjadi. Learning process barangkali kita bisa menyebutnya.

    1. Benar mas🙂 itu juga yang dulu saya alami.. Dibilang master plan gak butuh, kok ya ngenes, karena rencana ibarat kompas yang selalu mengingatkan kita agar tidak tersesat.

      Namun saya menangkap inti dari pesan Aaron Skonnard: kemampuan untuk pivot🙂 ujung-ujungnya ya memang kemampuan beradaptasi, alias fleksibilitas. Itu yang kita butuhkan.

      Dan terbukti kok, bisnis yang lamban bergerak atau tidak lincah melakukan penyesuaian ya selalu tertinggal.

      Cheers..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s