Entrepreneurship: 3 Pelajaran Penting Dari Kampus Entrepreneur No.1 Di Amerika

Foto: www.satindergrewal.com
Foto: http://www.satindergrewal.com

Entrepreneur punya 3 hal yang tidak dimiliki oleh orang umum kebanyakan. Dengan melihat 3 aspek ini kita bisa mengukur apakah seseorang memiliki jiwa entrepreneur yang kuat dalam dirinya ataukah belum. Apa saja 3 aspek tersebut?

Menurut Peter Cohan, founder Peter S. Cohan & Associates, pengajar di Babson College, sekaligus kontributor majalah Inc., entrepreneur punya 3 hal yang membedakan mereka dengan kebanyakan orang: mereka mampu mengubah “sampah” menjadi “emas”, mereka mampu “menyesuaikan” kemampuan timnya dengan masalah yang mereka hadapi, dan mereka adalah pembelajar yang cepat.

Banyak orang yang percaya bahwa entrepreneurship adalah bakat alami yang tidak bisa diajarkan ataupun dipelajari. Jadi menurut orang dengan sudut pandang seperti ini bila Anda tidak punya bakat entrepreneur maka Anda tidak akan pernah bisa menjadi seorang entrepreneur.

Namun anggapan tersebut tidak menghalangi perguruan-perguruan tinggi untuk mengajarkan pada anak didiknya bagaimana cara mendirikan startup. Bila merujuk pada ranking dalam U.S. News and World Report, tidak ada universitas yang mampu mengajarkan entrepreneurship lebih baik dari Babson College, tempat di mana Cohan mengajar strategi dan entrepreneurship.

Berikut ini cara unik Cohan dalam mengajarkan 3 hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang entrepreneurship kepada para mahasiswanya, di Babson College dikutip dari majalah Inc.:

September 2014 yang lalu saya menghabiskan pagi hari saya untuk memberikan orientasi pada 75 mahasiswa baru di program pascasarjana. Dalam sesi 60 menit tersebut saya membagi mereka menjadi 5 tim dan memberi mereka tugas yang akan menguji insting entrepreneur mereka dan membantu mereka menemukan 2 mindset penting dari para founder-founder yang berhasil.

Setiap kelompok diberi waktu 20 menit untuk membuat satu mesin Rube Goldberg, lalu mereka harus mendemonstrasikannya di depan seluruh peserta kelas. Setiap kelompok diberi 5 bola tenis yang harus mereka pindahkan dari satu tempat ke dalam sebuah keranjang, tanpa seorang pun dari mereka terlewatkan untuk menyentuh bola ketika bolanya dioperkan dari mahasiswa pertama ke mahasiswa terakhir. Dan tak lupa saya perbolehkan mereka untuk memanfaatkan benda apapun yang ada di dalam kelas untuk merangsang kreativitas mereka dalam menemukan solusinya.

Dan hasilnya? Terlihat perbedaan besar dari masing-masing kelompok dalam menyelesaikan masalahnya. Kelompok yang terbaik menciptakan sebuah tarian yang lucu dan kreatif yang menggunakan cara-cara unik seperti memutar meja, memantulkan bola ke dinding, menggelindingkan bola di atas meja, dan melambungkan bola menyeberangi kelas sebelum akhirnya bola itu mendarat di dalam keranjang sampah. Sebaliknya, kelompok terburuk menghabiskan waktu 18 menit mereka hanya untuk merencanakan sebuah proses yang begitu rumit, saking rumitnya sehingga mereka tidak punya waktu untuk berlatih mempraktikkannya, dan akhirnya sesi demonstrasi mereka pun berantakan.

Hal yang membedakan kelompok terbaik dengan kelompok terburuk adalah pendekatan mereka dalam hal kepemimpinan. Tim terbaik memilih seorang pemimpin yang mengumpulkan ide dari semua orang dan dengan cepat menemukan metode mana yang paling tepat melalui proses trial and error. Seluruh anggota tim tersebut telah menyepakati metode mana yang akan mereka gunakan hanya dalam 10 menit pertama mereka, lalu 10 menit berikutnya mereka gunakan untuk berlatih mempraktikkan metode yang telah mereka pilih, lalu mempelajari kesalahan mereka dan memperbaikinya. Ketika jatah waktu 20 menit mereka habis, mereka sudah mampu mendemonstrasikan mesin mereka dengan baik.

Tim terburuk menghabiskan 5 menit pertama mereka untuk berdebat mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin. Kemudian pemimpin yang telah terpilih mendengarkan ide dari setiap orang dengan simpatik namun akhirnya ia menolak semua ide yang ia peroleh karena tidak ingin membuat seorang pun merasa tersinggung. 15 menit berikutnya mereka merasa tertekan karena harus menyetujui sebuah rencana yang tidak jelas di mata mereka. Dan di 2 menit terakhir mereka baru berlatih mempraktikkan metode mereka dan menyadari adanya sebuah proses yang salah. Demonstrasi mesin mereka berjalan buruk dan mereka kehilangan 2 dari 5 bola tenis mereka.

Dari permainan ini, ada 3 pelajaran tentang entrepreneurship yang bisa mereka petik:

1. Entrepeneur menghasilkan “emas” dengan sumber daya yang terbatas.
Seperti yang telah ditunjukkan para mahasiswa tersebut, seorang entrepereneur harus mampu meraih tujuan dengan sumber daya yang mereka miliki, dengan segala keterbatasannya. Kemampuan mereka dalam menciptakan sesuatu yang berharga dari sesuatu yang tidak bernilai akan mengundang investor berduit yang sedang mencari keuntungan. Mereka akan mempertaruhkan uang mereka pada orang yang memiliki kemampuan tersebut.

Seperti yang telah saya jelaskan dalam buku saya, Hungry Start-Up Strategy, entrepreneur bekerja dalam 3 tahap: prototyping (membuat versi sederhana dari sebuah produk dan mencari feedback sampai seorang customer membelinya), customer base (menjual produk tersebut kepada lebih banyak customer), dan expansion (membesar dan merambah skala global). 3 tahapan kerja tersebut membantu entrepreneur menghasilkan “emas” di tengah beragam keterbatasan.

2. Entrepreneur membangkitkan semangat dan kemampuan timnya

Bila seorang CEO startup mampu menginspirasi orang lain dengan visi yang “menggerakkan”, ia akan mampu menarik orang-orang berbakat di sekitarnya. Dan bila ia mahir dalam mendorong timnya untuk menjadi lebih kreatif dan lebih berani mengeksekusi ide-ide mereka,maka akan tercipta sebuah mesin pembelajaran yang akan memicu lahirnya solusi dengan cepat dan tanpa melukai ego anggota timnya.

Dalam permainan tersebut, pemimpin tim terbaik memulai proses pembelajaran ini ketika ia bertanya pada para anggotanya apa peran yang mereka inginkan dalam mesin Rube Goldberg. Ada di antara mereka yang tidak berani memikul tanggung jawab untuk melempar bola tenis, sementara anggota yang lain mengajukan diri untuk melakukannya. Lalu mereka pun bergerak cepat untuk mengeksplorasi pekerjaan apa yang bisa dilakukan para non-pelempar ini dengan baik. Dan hasilnya mesin buatan mereka begitu kreatif dan sangat terkoordinasi.

3. Entrepreneur lebih suka “learning by doing” dibanding perencaan yang detail

Kelompok yang paling efektif menunjukkan kerja yang baik dalam brainstorming dan memilih ide yang terbaik. Mereka tidak “overthinking” membuang waktu terlalu lama untuk berpikir dan menimbang-nimbang. Dengan cepat mereka berpindah ke tahap yang lebih lanjut dengan berlatih mempraktikkan ide terbaik mereka, melakukan kesalahan, belajar dari kesalahan tersebut, dan mencoba cara yang telah diberi perbaikan.

Hal ini juga terjadi di kehidupan nyata, di saat perusahaan-perusahaan besar suka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuat perencanaan, entrepereneur yang efektif lebih nyaman dengan memikirkan solusi-solusi yang masuk akal untuk sebuah masalah, segera mencoba mengimplementasikan solusi tersebut, mencari feedback, dan memperbaiki caranya menyelesaikan masalah.

Dalam permainan Rube Goldberg, tim-tim terbaik adalah tim yang paling cepat melakukan perpindahan dari fase memikirkan strategi ke fase mencoba strategi mereka. Lebih jauh lagi, tim tersebut mampu memutuskan dengan cepat langkah mana yang tepat dan langkah mana yang harus dibuang. Dan dalam waktu 20 menit, mereka telah berhasil menciptakan sebuah mesin yang beroperasi dengan lancer dan menghibur.

Last updated: Sep 2, 2014

2 thoughts on “Entrepreneurship: 3 Pelajaran Penting Dari Kampus Entrepreneur No.1 Di Amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s