Keren! Usia 12 Tahun Sudah Menjadi CEO Perusahaan Bernilai US$ 150.000

Foto: vogue.com
Foto: vogue.com

Bagaimana cara dia melakukannya? Baca artikel ini bila Anda ingin mengikuti jejaknya! Di usia 12 tahun, Moziah Bridges, CEO sekaligus pendiri Mo’s Bow, sudah meraih nyaris semua yang diinginkan oleh orang-orang yang jauh lebih tua darinya: kehidupan yang bahagia dan pekerjaan yang dicintainya. Banyak hal yang bisa kita pelajari darinya, kata Larry Kim, pendiri dan CTO perusahaan advertising online WordStream sekaligus kontributor majalah Inc. Berikut ini Larry Kim menceritakan kisah perjalanan Moziah Bridges mendirikan Mo’s Bow, dikutip dari majalah Inc.: Tiga tahun yang lalu, di saat teman sebayanya sedang disibukkan bermain dan mengerjakan PR, Moziah Bridges sedang sibuk membangun bisnisnya yang kini bernilai US$ 150.000. Ia memulai bisnisnya saat usianya masih 9 tahun. Belum menginjak remaja namun Bridges sudah punya 5 staf dan menjadi sorotan banyak media, mulai dari penampilannya di program TV Shark Tank hingga artikel khusus tentangnya di majalah O dan Vogue. “Saya suka dasi kupu-kupu, karena saya terlihat keren dan merasa keren saat memakai dasi kupu-kupu,” tulis Bridges dalam websitenya. “Menciptakan dasi kupu-kupu yang berwarna-warni adalah bagian dari visi saya untuk membuat dunia menjadi tempat yang menyenangkan dan lebih banyak kegembiraan.” Layaknya seorang fashionista, ia sudah gemar bergaya sejak masih sangat belia. Bahkan saat usianya 4 tahun, Bridges suka mengenakan setelan jas dan dasi setiap ada kesempatan dan ia bersikeras sendiri gaya berpakaiannya mengatur. Bisnisnya, Mo’s Bow, buah dari kecintaannya pada dasi kupu-kupu dan kekecewaannya atas keterbatasan pilihan untuk anak seusianya. Dan bukan cuma karena pilihan warnanya yang sedikit, hampir semua dasi kupu-kupu untuk anak seusianya bermodel clip-on (langsung temple). Sementara di mata Bridges, seorang pria sejati harus menyimpulkan dasinya sendiri. Neneknya pun mengajarinya cara menjahit dengan tangan dan dengan mesin jahit. Ia manfaatkan kain-kain perca untuk membuat dasi yang ia suka. Dalam hitungan bulan, ia sudah merampungkan lebih dari 2 lusin dasi kupu-kupu rancangannya sendiri. Teman-teman dan keluarganya menyukai kreasinya. Bridges pun kemudian meningkatkan produksinya, ia menciptakan dasi-dasi baru dari kain vintage milik neneknya yang bermotif bunga dan motif Afrika, sampai potongan-potongan gaun taffeta. Promosi mulut ke mulut berperan besar bagi bisnisnya, dan tak lama kemudian Bridges memperluas saluran penjualannya dengan Facebook dan Etsy. Seiring dengan melonjaknya minat pasar, ibu, nenek, dan anggota keluarganya yang lain turut bergabung membantu produksinya. Kini bisnis Bridges telah berkembang pesat. Baik dari segi material maupun penjualan. Dari segi material, yang tadinya ia menggunakan bahan-bahan vintage, sekarang telah merambah ke bahan wol dan gingham, dengan corak formal dari satin dan sutera. Sedangkan dari segi penjualan, kini Mo’s Bow tidak hanya dijual di Etsy saja, tapi juga telah merambah butik-butik di Texas, South Carolina, dan Tennessee. Ketika ditanya siapa tokoh panutannya, ia menjawab Daymond John, pengusaha sekaligus investor ternama Amerika yang menjadi mentornya acara Shark Tank. Sukses di bisnis saja masih belum cukup, Bridges juga menjadi seorang filantropis muda. Musim panas ini, ia telah mendonasikan US$ 1.600 untuk mengirimkan 10 anak dari Memphis, kota tempat tinggalnya, ke Glenview Summer Camp. Dalam sebuah post di blognya, Bridges menulis, “Memphis tercatat sebagai kota dengan jumlah kelaparan anak tertinggi; banyak anak yang hanya mendapatkan makanan saat mereka di sekolah. Di pusat pelayanan masyarakat, anak-anak bisa bermain dan mendapatkan makanan. Berbagi dengan masyarakat di sekitar saya tidak hanya membantu saya agar selalu rendah hati, namun juga membuat saya senang melihat anak-anak tersenyum dan menikmati summer camp mereka.” Lalu apa rencana kidpreneur inspratif ini selanjutnya? Dalam wawancara sebelumnya, Bridges mengatakan ia ingin meneruskan pendidikannya sampai perguruan tinggi dan mendirikan sebuah clothing line saat usianya 20 tahun. Semuanya sudah ia dapatkan; kehidupan yang bahagia, bisnis yang sukses, kehidupan sosial yang menyenangkan, keseimbangan hidup- sekolah- kerja, dan tujuan hidup yang jelas. Selain itu ia juga masih bisa tidur pada jam 8.30 setiap malamnya. Apa lagi yang membuat Anda ragu mengikuti jejaknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s