5 Pelajaran Yang Bisa Anda Dapatkan Dari “Entrepreneur Kecil”

 

Foto: Pinterest
Foto: Pinterest

Memang sebaiknya Anda mendorong anak Anda untuk belajar entrepreneurship sejak mereka masih kecil. Walaupun sekilas terlihat enteng dan menggemaskan, namun dalam prosesnya terdapat banyak pelajaran yang membuat banyak orang dewasa menyesal karena mereka tidak mengetahuinya sejak masih kanak-kanak, termasuk Anda mungkin.

Begitulah pendapat Geoffrey James, contributing editor majalah Inc., dan itu memang benar. Ia berbagi kisah perjalanan bisnisnya di masa kecil yang lucu namun terdapat banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan dan masih relevan dengan situasi saat ini. Berikut ini kisahnya, dikutip dari majalah Inc:

Anak saya baru saja menginjak umur 10 tahun. Dia adalah seorang anak yang cerdas, mahir dalam olahraga, ramah, dan berbagai sifat lainnya yang diharapkan seorang ayah ada pada anaknya. Namun, saya harus mengakui bahwa saya sedikit kecewa mengingat ia belum punya pengalaman mendirikan bisnisnya sendiri.

Padahal di usia 10 tahun saya sudah belajar banyak hal tentang bisnis melebihi orang-orang dewasa karena masa kecil saya diisi dengan begitu banyaknya usaha dan kegiatan untuk mendapatkan tambahan uang. Usaha-usaha tersebut mengajarkan saya hal-hal penting dalam bisnis yang akan saya sesali bila saya baru mengetahuinya saat dewasa nanti, ini di antaranya:

1. Orang tidak menghargai apa yang mereka dapatkan secara cuma-cuma.

Dari kecil saya sudah senang tampil di atas panggung. Kemudian saat umur saya tujuh tahun, saya sering mengadakan acara pentas bakat di garasi saya yang menampilkan saya dan siapa pun yang mau saya tarik menjadi peserta pentas. Saya gunakan kursi dapur sebagai kursi penonton dan saya buatkan poster untuk mengumumkan acaranya.

Awalnya, saya menggratiskan acara ini, namun tidak ada yang datang. Suatu hari, saya memutuskan untuk mengenakan biaya masuk, dan.. Boom! Semua anak-anak di lingkungan rumah saya berdatangan. Saat itulah saya menyadari bahwa orang hanya akan menghargai sesuatu ketika mereka harus membayarnya.

Saya jadi teringat pertunjukan bakat tersebut setiap kali saya membaca tentang freeware, atau konsultasi gratis, atau apapun yang gratis. Ya, penggratisan memang bisa meningkatkan awareness orang-orang tentang apa yang Anda tawarkan untuk mereka, tapi sebelum mereka harus membayar untuk mendapatkan produk Anda, mereka tidak akan pernah bisa menghargai produk Anda.

2. Lokasi, lokasi, lokasi.

Sebagian besar anak-anak pasti pernah berjualan air limun saat mereka masih kecil. Namun tidak dengan saya. Karena saya penggemar dinosaurus maka saya membuka sebuah stand fosil. Saya memenuhi stand saya dengan fosil-fosil yang saya temukan di taman dekat rumah saya yang sedang dibuatkan jalan setapak paving.

Kebanyakan koleksi saya adalah fosil kerang dan itu jauh dari kesan dinosaurus. Tapi menurut saya fosil itu sangat menarik sehingga saya benar-benar yakin pasti akan ada banyak anak-anak yang ingin membelinya. Saya lalu membuat beberapa rak lalu memasangnya di trotoar dan memberinya papan besar bertuliskan “FOSIL!”

Namun sayangnya, stand fosil saya hanya berjarak 50 kaki dari taman tempat saya menemukan fosil-fosil tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi para calon pembeli saya untuk mendapati bahwa mereka bisa mendapatkan produk saya secara cuma-cuma bila mereka mau mencarinya di taman.

Kalau diingat-ingat lagi, mungkin akan saya lebih sukses kalau waktu itu saya memilih berjualan air limun. Namun sayangnya hal tersebut tidak terjadi.

3. Ide besar mengundang lebih banyak perhatian daripada ide kecil.

Setelah gagal di bisnis ritel fosil, saya berjalan keliling mencari cara lain untuk mendapatkan uang ekstra. Di jalan saya melihat seorang anak membuat sebuah acara seperti pasar malam di halaman rumahnya, ia menarik biaya untuk permainan seperti melempar kacang ke dalam kantong, melempar tapal kuda, dan permainan-permainan lain semacam itu.

Daripada menyontek ide berskala recehan seperti itu, saya memutuskan untuk membangun sebuah lapangan golf mini dengan 9 lubang di halaman belakang rumah saya. Saya menggunakan papan tua, pipa, batako, dan kaleng yang saya kubur di dalam tanah sehingga saat Anda berhasil memasukkan bolanya ke dalam lubang maka akan menghasilkan bunyi yang unik dan mengasyikkan.

Sekitar satu minggu lamanya saya menjadi anak paling populer di kompleks saya dan saya meraup cukup banyak uang, sampai suatu hari ayah saya menemukan bahwa saya menggunakan peralatan golfnya tanpa seizinnnya. Setelah itu dengan terpaksa saya harus menutupnya.

Pengalaman itu mengajarkan saya dua hal. Pertama, mintalah ijin kepada ayah sebelum Anda meminjam barang-barangnya. Kedua, biasanya satu ide besar yang merepotkan menghasilkan lebih banyak keuntungan dibandingkan sekumpulan ide kecil yang mudah dieksekusi.

4. Sebagus apapun ide tidak ada nilainya sampai ia dilaksanakan.

Setelah lapangan golf saya tutup terlalu dini, saya mencari lagi ide besar lain yang menghasilkan uang. Lalu datanglah sebuah ide: “rumah hantu” di kamar tidur saya.

Jadi begini ide saya. Pengunjung akan duduk di atas “gerobak besi merah” di atas tempat tidur saya, dan kemudian saya akan mendorongnya melewati sebuah turunan dari dua papan yang dimiringkan ke dalam lemari saya, yang sebelumnya sudah saya isi dengan hal-hal yang “menyeramkan”.

Namun sayangnya, satu-satunya hal menyeramkan yang saya miliki saat itu adalah sebuah tengkorak glow in the dark dengan tinggi 1 meteran yang akan meniupkan cincin asap dari sebuah rokok kecil di mulutnya ketika dinyalakan. Karena benda tersebut tidak terlalu menakutkan, saya terpaksa membatalkan ide saya tersebut karena tidak mudah mengeksekusinya.

Dan sekarang, banyak orang mengirimkan ide-ide mereka kepada saya untuk dijadikan sebuah bisnis (atau buku) dan mereka berpikir mereka telah melakukan semuanya. Tapi lalu saya teringat bahwa yang terpenting bukanlah ide, melainkan apakah dan seberapa baik Anda bisa mewujudkan ide Anda menjadi kenyataan.

5. Berpikir dua kali dan meminta saran.

Setelah itu, saya memutuskan untuk melakukan semacam “penelitian” dengan membaca semua katalog mail-order untuk kategori “mendirikan bisnis Anda sendiri”. Lalu saya pun memutuskan “mesin uang yang 100% berhasil” saya selanjutnya adalah : berkebun jamur.

Dengan bayangan dolar di mata saya, saya pun memesan sebatang “bibit jamur.” Namun sayangnya, ternyata jamur tersebut telah tumbuh di dalam ember kotoran kuda yang saya simpan di dalam lemari saya yang gelap dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Tak lama kemudian ibu saya mencari tahu sumber bau tak sedap tersebut. Dan, setelah mendapat “peringatan keras”, saya terpaksa berhenti dan mengakui bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi raja jamur dari Ohio Utara.

Sampai sekarang saya masih sangat antusias ketika saya mendapatkan ide bisnis baru. Namun, saya telah belajar untuk “berpikir dua kali dan meminta saran” karena selalu ada kemungkinan bahwa apa yang saya pikir brilian mungkin tersimpan bau tak sedap seperti perkebunan jamur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s