Mengubah Orang Yang Tidak Ingin Berubah? Begini Caranya!

icebreakerSiapapun Anda dan apapun profesi Anda, pasti pernah (dan mungkin sedang) berusaha mengubah orang yang sulit untuk berubah. Semakin keras Anda berusaha mengubahnya, semakin besar penolakan darinya. Eksperimen terbaru dari para pakar perilaku ini akan memberitahu Anda di mana letak kesalahan Anda dan bagaimana cara memperbaikinya. 

Perubahan adalah salah satu isu terberat dalam kehidupan. Tidak percaya? Lihat saja, saat Anda mengajak orang untuk berubah, Anda menyebutnya sebagai persuasi. Namun ketika seseorang meminta Anda untuk berubah, Anda menganggapnya sebagai nagging (bawel). Dan yang lebih aneh lagi, selama ini orang-orang sering menggunakan pendekatan nagging (yang mereka sendiri tidak akan menyukainya bila pendekatan itu digunakan pada mereka) untuk menciptakan perubahan pada orang-orang di sekitar mereka. Bisa Anda bayangkan seperti apa respon orang yang menerimanya.

Dengan banyaknya nagging yang terjadi di seluruh dunia setiap harinya, menurut Joseph Grenny, Co-Chairman dari VitalSmarts, salah satu perusahaan penyedia training dan konsultasi kinerja ternama di Amerika, seharusnya ada setidaknya satu saja lembaga penelitian yang bisa membuktikan kemanjurannya. Namun nyatanya tidak. Bahkan di Amazon, ia tidak mendapati satu buku pun yang menampilkan nagging sebagai sebuah skill leadership atau sebuah strategi mempengaruhi yang efektif.

Kita cenderung menggunakan cara tersebut ketika a) kita sangat peduli dengan seseorang;/sesuatu atau b) kita tidak punya pilihan.

Namun masih ada harapan. Karena sedang dikembangkan sebuah teknik yang diyakini lebih efektif dalam membantu orang untuk mengubah orang-orang yang kesulitan untuk berubah. Pendekatan ini dinamakan motivational interviewing.

Ide yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah: Ketika Anda sedang membutuhkan suntikan motivasi, namun Anda malah dihujani dengan informasi-informasi (yang jelas-jelas bukan motivasi), hal tersebut malah akan membuat Anda merasa terganggu. Pendekatan ini mencoba mempengaruhi orang dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk membantu orang untuk menemukan kembali motivasi yang sudah ada dalam diri mereka.

Belum lama ini Grenny dan rekannya David Maxfield, Vice President of Research di VitalSmarts, melakukan percobaan menarik untuk membuktikan teori tersebut. Dalam percobaan ini dua anak laki-laki ditugaskan untuk mendatangi para perokok dan meminta mereka untuk berhenti merokok. Mereka mereka menguji dua pendekatan yang berbeda, yakni pendekatan tell (ceramah)” dan ask (bertanya)”.

Dalam pendekatan “tell”, mereka menggunakan pendekatan ceramah yang tradisional, dan kemudian bertanya kepada para perokok apakah mereka menginginkan informasi tentang bagaimana cara berhenti merokok. Dengan pendekatan ini, kedua bocah kecil tadi berhasil mendapatkan respon yang kurang bersahabat dari 90 persen perokok, dan kurang dari setengahnya mengambil leaflet yang berisikan informasi tentang cara berhenti merokok.

Sementara dalam pendekatan “ask”, anak-anak ini mendatangi para perokok dengan membawa rokok palsu, dan menanyakan apakah mereka bisa meminjam korek api kepada para perokok tersebut. Dan ternyata permintaan dua bocah ini mengundang reaksi yang dramatis dari para perokok. Tidak satu pun dari mereka yang memberikan api, dan tidak ada satupun yang mengabaikan permintaan anak-anak tersebut. Sebaliknya, mereka justru mematikan rokoknya, lalu menceramahi anak-anak ini tentang bahaya merokok. Tidak ada yang menyangka kalau pertanyaan tadi bisa memicu omelan larangan merokok yang keluar dari mulut para perokok itu sendiri.

Kemudian anak-anak ini melontarkan pertanyaan kedua yang sangat mengena kepada para perokok: “Kalau Anda peduli dengan kami, bagaimana dengan diri Anda sendiri?” Kemudian mereka menawarkan informasi tentang bagaimana cara behenti merokok. Dengan cara ini, 90% dari para perokok berjanji untuk berusaha berhenti merokok.

Apa yang terjadi pada percobaan di atas tidak jauh berbeda dengan yang kita alami setiap hari. Pernahkan Anda ingin supaya pasangan Anda mengubah gaya hidupnya yang kurang sehat. Bagaimana respon pasangan Anda setelah menerima ceramah Anda? Pasti mereka tidak menyukainya kan? Sekarang coba lakukan pendekatan yang berbeda, dengan menggunakan teknik pertanyaan.

Pertanyaan pertama adalah tentang tingkat motivasinya. Misalnya, “Dari skala 1-10, seberapa pentingkah mengubah kebiasaan burukmu?” Kita asumsikan dia menjawab, “Saya tidak tahu, mungkin 4.” Di sinilah Anda harus berhati-hati. Pada tahap ini kebanyakan dari kita akan menceramahinya dengan sederet alasan-alasan mengapa ia seharusnya ada di level 10. Tahan kejengkelan anda, sebab motivational interview adalah tentang mensupport dan mengembangkan motif yang sudah ada dalam diri mereka.

Selanjutnya katakan, “Wow 4 ya. Kok nggak 1? Kenapa setinggi itu?” Jangan menekan, cukup bertanya saja. Lalu eksplor lebih dalam. Cobalah memahami motivasi mereka. Mengingatkan orang tentang hal yang sudah mereka ketahui hanya akan membuat mereka merasa seperti direndahkan atau diatur. Respon alami yang umumnya ditunjukkan orang-orang adalah menolak atau mempertahankan kebebasan mereka. Para psikolog menamakan respon ini dengan istilah reactance / reaktansi.”

Setelah melihat percobaan di atas, muncul banyak pertanyaan dari orang-orang yang meragukan efektivitasnya: “Apakah para perokok benar-benar akan berhenti merokok?” Grenny menjawab, “Kami tidak tahu.”

Namun, ketika raksasa periklanan Ogilvy & Mather melakukan percobaan ini di Bangkok, panggilan yang masuk ke line telepon mereka meningkat 40% pada hari percobaan tersebut dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa dampak dari metode ini lebih dari sekedar kata-kata dan mampu memicu tindakan.

Anda bisa menggunakan teknik ini saat Anda ingin membantu seseorang untuk melakukan perubahan yang sulit. Jangan mengulangi informasi dan fakta-fakta yang sudah mereka ketahui. Cobalah dekati mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk membantu mereka menggali kembali motivasi mereka tanpa merasa dipaksa.

Di bawah ini ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa Anda coba:
“Apa yang membuat Anda ingin berubah?”
“Bila perubahan berjalan seperti yang Anda inginkan, apa bedanya untuk Anda?”

“Apa kelebihan dan kekurangan dari berubah dan tidak berubah?”

“Bila perubahan ini mudah, apakah Anda akan mencobanya? Apa yang menahan Anda melakukannya?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s