Ini Caranya Agar Karyawan Terbaik Tidak Angkat Kaki Dari Perusahaan Anda!

Foto: LinkedIn
Foto: LinkedIn

Apapun bidang bisnisnya, mencari karyawan yang bagus adalah pekerjaan yang berat, namun mempertahankannya adalah hal yang jauh lebih berat lagi. Tak ada satupun pebisnis atau manager yang rela ditinggalkan karyawan terbaiknya. Lakukan satu hal ini dan mereka akan berpikir ribuan kali untuk meninggalkan Anda!

Saat ini masih banyak manager yang beranggapan bahwa kunci untuk mempertahankan orang terbaiknya adalah uang, namun itu salah. Kunci dari retensi yang baik adalah seberapa efektif perusahaan mampu meningkatkan kualitas hidup karyawannya. Termasuk membantu karyawannya bermimpi lebih besar dan mewujudkan mimpi tersebut, meskipun itu artinya membantu mereka mendapatkan pekerjaan impian yang berada di luar perusahaan Anda.

Pelajaran itu pula yang didapatkan oleh Mary Miller, CEO dari JANCOA, perusahaan jasa janitorial yang berlokasi di Cincinnati. JANCOA tumbuh dari perusahaan dengan 65 karyawan dan saat ini menjadi 550 karyawan, di bidang industri yang angka rata-rata turnover tahunannya adalah 400 persen. Kini angka turnover tahunan JANCOA sebesar 100 persen, angka yang luar biasa rendah untuk bidang industrinya. Keberhasilan menekan angka turnover ini tentunya berimbas pada tingkat kepercayaan customer karena perusahaan mana yang merasa nyaman melihat orang yang mengepel lantai mereka berganti-ganti setiap hari.

Kepedulian pada karyawan melebihi keuntungan

Awalnya Miller berusaha keras untuk menemukan alasan mengapa mereka tidak bisa mempertahankan orang-orang mereka yang bagus, akhirnya mereka menemukan bahwa karyawan mereka tidak mempunyai sarana transportasi yang bisa diandalkan. Lalu mereka pun memberli sebuah van bermuatan 15 orang dan mengantar-jemput karyawan mereka dari dan menuju tempat kerja.

Dan suaminya, Tony, yang menjadi sopir mereka. Dan sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan sopir lainnya, Tony menjadi sosok telinga tak terlihat yang mendengarkan masalah-masalah karyawan.

Ia menyaksikan sendiri kondisi kehidupan mereka, dan mendengarkan bagaimana kisah perjuangan pribadi maupun keuangan mereka, hal-hal yang banyak pemilik bisnis tidak punya kesempatan untuk melihatnya sendiri.

“Ada sesuatu yang berubah dalam diri kami,” kata Mary. “Dan ini bukan lagi tentang apa yang bisa kita lakukan agar meraup untung lebih banyak lagi, melainkan tentang apa yang bisa kami lakukan untuk meningkatkan kehidupan karyawan kami.

Setelah bertahun-tahun lamanya, mereka telah membantu 20 karyawan mereka membeli rumah, mendanai mereka untuk program pengentasan buta huruf, dan –walaupun ini terdengar tidak masuk akal—membantu karyawan mereka untuk menemukan passion mereka sehingga mereka dapat menemukan pekerjaan impiannya. Meskipun itu berarti mengubah arah karir atau pekerjaan mereka.

“Tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi seorang petugas kebersihan,” kata Mary. “Jadi kami minta orang-orang kami untuk memberikan kemampuan terbaik mereka untuk tiga atau lima tahun. Dan kami berjanji akan memperbaiki kualitas hidup mereka selama mereka di sini dan membantu mereka untuk menemukan dan mendapatkan pekerjaan impian mereka, meskipun pekerjaan tersebut ada di tempat lain.”

Pasangan suami-istri Miller ini belajar bahwa dengan memberikan orang lain kesempatan untuk mengejar mimpi mereka membuat mereka lebih bahagia di pekerjaan mereka saat ini, dan hal tersebut membuat mereka menyapu dengan lebih enerjik, lebih sedikit mengeluh, dan bekerja dengan lebih baik, dan bahkan membantu membangun budaya bekerja mandiri, memberikan yang terbaik tanpa harus diawasi.

Banyak karyawan mereka yang bertahan bersama mereka (beberapa di antaranya bahkan lebih dari satu dekade) karena mereka menikmati pekerjaan mereka dan menghargai apa yang telah perusahaan berikan untuk mereka.

Beberapa ada yang pergi namun kemudian kembali lagi karena merasa perusahaan barunya tidak sebanding.

Kepedulian pada karyawan berbuah pertumbuhan bisnis

Prinsip kepedulian pada kualitas hidup karyawan ini turut memudahkan proses rekrutmen mereka.

JANCOA mendapati bahwa 57 persen karyawan mereka direkrut oleh karyawan lain. 17 persen datang karena rekomendasi dari mantan karyawan.

Pada akhirnya, fokus pada kehidupan karyawan membantu bisnis mereka berkembang.

Perusahaan juga berhasil menggandakan revenue dalam 4 tahun terakhir ini meskipun mereka tidak punya tim sales. Promosi dari mulut ke mulut lah yang membantu mengisi kebutuhan mereka akan karyawan dan mempermudah mempertahankan dan menumbuhkan basis pelanggan mereka.

“Para customer senang karena petugas kebersihan mereka selalu orang yang sama dan tidak berubah-ubah setiap malam,” kata Mary. “Itu adalah hasil langsung dari upaya retensi karyawan kami. Dan ketika orang-orang bekerja menuju sesuatu yang berarti, bukan hanya sekedar bergerak asal-asalan, maka efisiensi Anda akan meningkat dan begitu juga keuntungan Anda.”

Jadi, tidak peduli apakah tim yang Anda pimpin beranggotakan petugas kebersihan, akuntan, programmer, atau salesman, salah satu prinsip kepimpinan yang harus Anda ingat adalah:

Anda bisa menyelesaikan masalah customer bila Anda membantu karyawan Anda menyelesaikan masalahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s